Sabtu, 24 Oktober 2015

KELUARGA ALLAH (5)



Mengembangkan Komunitas
 

Yakobus 3:18 (Msg)
Kamu dapat mengembangkan komunitas yang sehat dan kuat yang hidup benar dengan Allah serta menikmati hasil-hasilnya hanya jika kamu berusaha keras bergaul dengan baik satu sama lain, dengan saling bersikap luhur dan hormat.

Komunitas membutuhkan komitmen. Hanya Roh Kudus yang bisa menciptakan persekutuan yang sesungguhnya di antara orang-orang percaya, namun Dia mengembangkannya dengan pilihan dan komitmen yang kita buat. Dibutuhkan baik kuasa Allah maupun usaha kita untuk menghasilkan komunitas Kristen yang penuh kasih.

Mengembangkan komunitas membutuhkan kejujuran
Seringkali kita tahu apa yang perlu dikatakan kepada seseorang, tetapi rasa takut kita menghalangi kita untuk mengatakan apapun. Banyak persekutuan disabotase oleh rasa takut: tidak seorangpun berani berbicara terus terang di dalam kelompok pada waktu kehidupan seorang anggota berantakan. Alkitab memerintahkan kita untuk "menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih," karena kita tidak bisa memiliki komunitas tanpa sikap terus terang.
Banyak persekutuan gereja dan kelompok kecil tetap dangkal karena mereka takut akan konflik. Apabila muncul masalah yang bisa menyebabkan ketegangan atau ketidaknyamanan, dengan segera masalah tersebut disembunyikan untuk memelihara rasa damai sejahtera yang palsu.
Persekutuan yang sejati bergantung pada keterusterangan. Keterusterangan bukan berarti kita bebas mengatakan apapun yang kita inginkan, di mana saja dan kapan saja kita mau. Keterusterangan bukan kekasaran. Alkitab mengajar kita bahwa ada waktu yang tepat dan cara yang tepat untuk melakukan segala sesuatu (Pengkhotbah 8:6). Kata-kata yang tidak dipikirkan meninggalkan luka yang abadi.


Mengembangkan komunitas membutuhkan kerendahan hati
Mementingkan diri sendiri, membenarkan diri sendiri, dan keangkuhan yang keras kepala menghancurkan persekutuan lebih cepat dari hal lainnya. Kerendahan hati adalah oli yang melancarkan dan melembutkan hubungan (1 Ptr. 5:5b).
Kita bisa mengembangkan kerendahan hati dengan cara yang sangat praktis: dengan mengakui kelemahan-kelemahan kita, dengan bersabar terhadap kelemahan-kelemahan orang lain, dengan terbuka terhadap koreksi, dan dengan menunjukkan perhatian kepada orang lain.
Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri rendah; kerendahan hati berarti sedikit saja memikirkan diri sendiri. Orang-orang yang rendah hati sangat memusatkan perhatian pada melayani orang lain, mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri.

Mengembangkan komunitas membutuhkan sikap hormat
Sikap hormat adalah menghargai perbedaan-perbedaan kita, saling memperhatikan perasaan sesama, dan bersabar terhadap orang-orang yang menjengkelkan kita.
Dalam setiap gereja dan kelompok kecil, selalu ada setidaknya satu orang yang "sulit", biasanya lebih dari satu. Orang-orang ini mungkin memiliki kebutuhan emosional khusus, rasa tidak aman yang dalam, perangai yang menjengkelkan, atau keterampilan sosial yang kurang. Allah menempatkan orang-orang ini ditengah-tengah kita baik untuk kebaikan mereka maupun kita. Mereka merupakan sebuah kesempatan untuk bertumbuh dan suatu ujian persekutuan: Akankah kita mengasihi mereka sebagai saudara dan memperlakukan mereka dengan penuh martabat?
Keadaan yang sebenarnya adalah, kita semua memiliki sifat-sifat yang khusus dan menjengkelkan. Tetapi komunitas tidak ada hubungannya dengan kecocokan. Dasar bagi persekutuan kita adalah hubungan kita dengan Allah: Kita adalah keluarga.
Satu kunci untuk dapat menunjukkan sikap hormat adalah memahami dari mana orang-orang berasal. Temukan sejarah mereka. Bila kita mengetahui apa yang telah mereka alami, kita akan lebih paham. Bagian lain dari sikap hormat adalah tidak meremehkan kecemasan orang lain. Komunitas yang sejati terjadi ketika orang-orang mengetahui bahwa cukup aman untuk menyampaikan kecemasan dan ketakutan mereka tanpa dihakimi.

Mengembangkan komunitas membutuhkan sikap bisa memegang rahasia
Sikap bisa memegang rahasia berarti bahwa apa yang disampaikan di dalam kelompok kita harus hanya untuk kelompok kita, dan kelompok tersebut harus menanggulanginya, bukan menggosipkannya dengan orang lain.
Allah membenci gosip, terutama bila gosip itu agak tersamar sebagai sebuah "permohonan doa" bagi orang lain. Gosip selalu menyebabkan sakit hati dan perpecahan, serta menghancurkan persekutuan, dan Allah dengan sangat jelas menyuruh kita menentang orang-orang yang menyebabkan perpecahan di antara orang-orang Kristen. Mereka mungkin menjadi marah dan meninggalkan persekutuan jika kita menentang mereka atas tindakan-tindakan mereka yang bersifat memecah belah, tetapi persekutuan gereja lebih penting daripada individu manapun.

Mengembangkan komunitas membutuhkan frekuensi atau kekerapan
Kita harus mengembangkan kebiasaan mengikuti pertemuan ibadah. Kebiasaan adalah sesuatu yang kita lakukan dengan sering, bukan kadang-kadang. Kita harus menggunakan waktu bersama orang-orang, banyak waktu untuk mengembangkan hubungan yang dalam.
Komunitas dibangun bukan atas dasar kesenangan ("kami berkumpul bila saya merasa ingin berkumpul") tetapi atas dasar keyakinan bahwa saya membutuhkannya untuk kesehatan rohani.

Sembilan karakteristik dari persekutuan yang alkitabiah: kita akan berbagi perasaan-perasaan kita yang sebenarnya (otentisitas), saling memberi dorongan (kebersamaan), saling mendukung (simpati), saling mengampuni (belas kasihan), mengatakan kebenaran di dalam kasih (kejujuran), mengakui kelemahan-kelemahan kita (kerendahan hati), menghargai perbedaan-perbedaan kita (sikap hormat), tidak bergosip (bisa memegang rahasia), dan memprioritaskan kelompok (frekuensi).

Untuk direnungkan:

Bagaimanakah dengan komunitasku selama ini?

  • Sudahkah menjadi komunitas kristen yang penuh kasih? 
  • Sudahkah menjadi komunitas yang mengatakan kebenaran didalam kasih (jujur)? 
  • Sudahkah menjadi komunitas yang didalamnya ada orang-orang yang menyadari kelemahannya secara pribadi dan kelemahan sesamanya (kerendahan hati)?
  • Sudahkah menjadi komunitas yang mengasihi dan menghargai anggota persekutuan yang cukup "menjengkelkan" (sikap hormat)?
  • Sudahkah menjadi komunitas yang bisa memegang janji dan tidak suka menyebarkan gosip yang bisa memecah belah persekutuan? 
  • Sudahkah menjadi komunitas yang memprioritaskan kelompok dan memiliki waktu bersama untuk terus bersekutu dan beribadah?
Ayat untuk diingat: "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." (1 Yohanes 3:16)