Sabtu, 08 Juli 2017

Menantikan Tuhan

Shalom
Salam 'Spirit & Truth'

Pergumulan terbesar bagi orang² percaya pd waktu berhadapan dgn berbagai kesukaran hidup bersama Tuhan bukanlah krn tiadanya pertolongan, melainkan ketiadaan keteguhan iman dlm menanti janji Tuhan.
Dlm keadaan terdesak yg tampak semakin genting, bukannya menguatkan iman percaya, kita sering mundur & kembali pd kebiasaan lama: menggunakan jalan pikiran sendiri & menaruh harap pd sesuatu yg lebih nyata, yg tampak lebih pasti drpd pertolongan illahi.

Saul contohnya. Walaupun mendapatkan kepastian janji Tuhan dari seorang nabi pilihan Tuhan, melihat fakta² yg dlm ukuran akal sehat yg tak memberikan harapan, Saul mulai goyah.
Menurut catatan 1Sam.13:5-12 inilah sebab² Saul mulai meragukan cara Tuhan menolong umat-Nya: musuh spt pasir di laut banyaknya, prajurit²nya telah bersembunyi & melarikan diri, ia sdh menunggu lama sambil melihat rakyat tercerai berai meninggalkan dia.

"Bukankah Samuel tdk tahu kondisi medan perang?"; "Bukankah aku tdk terlalu melanggar ketetapan Tuhan? Toh aku masih berdoa minta tolong pd Tuhan?"; "Bukankah ada alasan kuat aku memilih keputusan sedemikian?" Itulah semua yg muncul di benak Saul & mungkin terasa wajar bagi kebanyakan org jika Saul akhirnya bertindak menurut pikiran & caranya sendiri.

Di pemandangan Tuhan, yg Saul lakukan justru merupakan perbuatan yg bodoh (1 Sam. 13:13). Berharap kpd Tuhan namun tdk menanti² Dia membuka pintu atau jalan bagi kita namun memilih mengikuti dorongan pikiran & hati yg diliputi kekuatiran & ketakutan sama saja dgn meremehkan Dia.

Saat keadaan sekitar kita semakin memburuk, semestinya kita lebih mendekat padaNya, meneguhkan iman & mencari konfirmasi illahi hingga damai-Nya memenuhi hati kita (1Sam.30:6; Fil.4:6-7). Dlm ketenangan itulah, Tuhan akan menunjukkan bagaimana Dia bekerja: entah mengubah situasi kita atau membuka pikiran kita & memberikan hikmat yg menghasilkan terobosan atas permasalahan kita.

Selamat pagi.
Selamat beraktivitas. Jbu