Rabu, 04 April 2018

BERSAHABAT TANPA KOMROMI DENGAN DOSA




Suatu ketika saya membaca sebuah buku yang sangat menggelitik dengan salah satu kalimatnya dari Edward Bulwer yang mengatakan, “Tidak ada satupun orang yang tidak mempunyai teman, tetapi apa yang dapat ia temukan adalah seorang teman yang cukup jujur untuk mengatakan kepadanya kebenaran-kebenaran yang tidak menyenangkan”. Sungguh berkat tersendiri saat saya merenungkan kalimat tersebut. Di dalam dunia persahabatan, kita mengenal istilah kekompakan tapi itu akan menjadi sia-sia jika ternyata kekompakan itu justru tidak berani menyatakan kesalahan yang harusnya dapat menjadi pelajaran berharga dalam sekolah kehidupan yang kita jalani.

Firman Tuhan berkata dalam Amsal 17:17 yaitu seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Nasehat yang baik saat kita memberikan diri untuk hadir dalam masa-masa kritis yang dialami oleh sahabat kita. Namun bagaimana jika masa sukar yang dialami itu akibat dari kesalahannya sendiri, apakah kehadiran kita menjadi pendukung dalam ketidakbenaran itu ataukah kehadiran kita dapat menjadi motivator sekaligus sahabat yang menerima dan berusaha memberikan solusi pemulihannya?

Alkitab mencatat beberapa kisah tentang kekompakan dalam hal negatif alias  kompromi dengan ketidakbenaran, antara lain sebagai berikut :
a. Kejadian 37:12-36, Anak-anak Yakub sangat kompak untuk berbohong kepada ayahnya bahwa Yusuf sudah mati dengan menunjukkan jubah yang penuh darah, hal ini disebabkan karena mereka iri hati kepada Yusuf yang mendapat kasih sayang lebih dari Yakub. Kekompakan mereka sangat keterlaluan         sehingga Yusuf terbuang dan seakan-akan kehilangan masa depan.

b. 1 Samuel 2:11-17, Hofni dan Pinehas adalah seorang imam yang sebenarnya tahu apa yang harus dikerjakannya dalam hal persembahan korban. Kebobrokan moral yang dibiarkan ini membuat mereka mengalami hukuman Tuhan.

c. Imamat 10:1-2, Nadab dan Abihu hangus karena menyalakan api yang asing kepada Tuhan. Harun tidak menegur kekompakan mereka yang jahat ini sehingga dia pun harus merelakan kedua anaknya meninggal dengan tragis.

d. Kejadian 19: 30-38, Kakak beradik anak-anak Lot ini pun juga kompak berzinah dengan ayahnya sendiri. Tidak heran jika anak hasil perzinahan mereka menjadi bangsa yang terkenal jahatnya di Alkitab yakni bani Moab dan bani Amon.

Di dalam komunitas hari ini, kita memiliki sahabat-sahabat yang kita percaya untuk menolong kita bertumbuh termasuk sahabat-sahabat rohani dalam gereja. Sahabat yang baik adalah sahabat yang mau dengan tulus memberikan umpan balik sebagai bahan refleksi diri. Saya menjadi teringat beberapa waktu yang lalu saat menjalani masa praktek pelayanan di salah satu gereja, seorang jemaat menyuruh saya untuk menegur kesalahan temannya yang sangat meresahkan padahal orang yang menyuruh saya ini adalah sahabatnya sendiri. Kemudian, saya mengatakan bahwa seharusnya dia yang harus menegur karena dia yang lebih   banyak mengenal sahabatnya. Tantangan dari saya membuat dia menyatakan     sesuatu tentang sahabatnya ini, apa itu? Dia berkata : “Aduh, jangan saya! Saya takut dia membenci saya, saya juga tidak mau kehilangan dia sebagai sahabat karena selama ini dia sangat baik kepada saya. Saya ingin dia sadar dan berubah tapi saya tidak tahu bagaimana caranya.” Jawaban ini begitu mengagetkan saya dan membuat saya berpikir bahwa persahabatan yang selama ini dibangun ternyata masih tergolong sangat dangkal, belum sampai kepada berani menyingkapkan kesalahan dan menolongnya untuk memulihkan diri sehingga menjadi lebih baik.

Gereja hari ini memiliki tanggung jawab yang besar. Jemaat memiliki kondisi hidup yang kompleks, peran gereja sebagai sahabat rohani bagi mereka yang    lemah juga harus nyata. Apa sih yang kadang membuat kita tidak berani menegur sahabat yang bersalah? Salah satunya karena kita sudah mendapatkan hal yang baik (materi, kenyamanan, dll) sehingga akhirnya hal itu menjadi suap agar kita menjadi tidak berani menyatakan kebenaran.

“Hendaknya yang kuat menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, demi kebaikannya untuk membangunnya.” (Roma 15:1-2). Dosa yang sudah masuk dalam kehidupan manusia jika tidak dibongkar, diakui dan dibereskan kepada Tuhan justru akan membuat seseorang akan dipakai Iblis untuk melakukan        kesalahan lagi. Jika seperti itu apalah artinya pengorbanan Yesus di kayu salib yang memerdekakan kita dari ikatan dosa karena hal itu sama dengan menyalibkan Yesus kembali.

Umpan balik dari sesama sangat diperlukan untuk membangun kita menjadi lebih baik lagi. Jika suatu ketika kita mendapati sahabat yang bersalah, tegurlah dengan kasih dan lembut lembut. Memang kelihatannya sangat menyakitkan namun lebih menyakitkan jika tidak disampaikan dan kita memberi kesempatan kepada Iblis untuk menggerogoti imannya. Persahabatan yang sejati juga tidak akan membuang dan tidak membuatnya terus terpuruk namun pendekatan pastoral akan menolongnya memaknai hidup dan mengijinkan Allah bekerja membentuknya lebih baik sesuai dengan kebenaran. Begitupula dengan kita, pastilah kita juga memiliki kelemahan namun bersikap terbuka mengharapkan umpan balik dari orang lain akan menolong kita bertumbuh juga sehingga tidak akan ada orang yang merasa dirinya paling benar sebab Kristuslah yang tinggal dalam kehidupan kita.

Sudahkah Anda menjadi sahabat yang sejati tanpa kompromi dengan dosa?